Hidup bukan sekedar hidup

Thursday, October 22, 2020

Srikandi

 Satu dua tiga jam berlalu. Raut wajahnya masih nampak menawan. Ia gulung charger laptop sebagai pertanda berakhir sesi presentasi. Setiap gerak nyaris sempurna tak kurang apapun. Menawan dan sempurna. Kemampuan publik speaking yang ia miliki menjadi kunci daya tarik.

"Ah sial apalah aku yang tak kuasa. Bahkan untuk sekedar menahan rasa aku tak berkuasa. Apalagi mengungkapkan rasa." Gumam Andi dalam kemelut batin.

 Ia tak mampu menahan rasa sekaligus tak mampu mengungkapkan rasa. Sebuah situasi yang sangat pelik. Bukan kehendaknya rasa itu datang. Bukan kemauannya rasa itu tiba. Melainkan sebuah anugerah yang datang begitu saja (kata pujangga) atau sebuah luka yang sudah dirasa meski takdir belum bergaris.

satu dua tiga detak jantung beradu dengan detak akal yang tak selaras.  Jantungnya seakan malaikat penyampai pesan dari rasa. Akalnya seakan manusia yang selalu penuh pertimbangan. Rasa itu sungguh menyiksa.

Kebobrokan dan kepayahan hidup yang dimiliki Andi membuat nyalinya ciut. Sekedar memimpikan, memiliki secuil hati saja tak berani. Sebuah semboyan sakti "Jika tak mencari bagaimana engkau tahu" nyatanya hanya sebatas teori. Dihadapan realita ia polos tanpa senjata.

Detik demi detik mengejek dalam setiap kedip mata. Sebuah nama yang begitu agung. Menghiasi setiap jeda kehidupan.  Ingin sekali Andi berontak melawan segala belenggung rasa. Menumpahkan, meluapkan semua isi yang ia pendam. Lagi-lagi akal berbisik bahwa timing belum tepat.

Adakala dalam hidup engkau harus menunda segala ingin dan harap. Adakala dalam hidup engkau harus menyerah terhadap waktu. Meski waktu berlari tak secepat cahaya tetap saja engkau tak sanggup mengimbangi. Pada akhirnya engkau harus menunda sekian detik atau bahkan tak terukur segala ingin dan harap.

Sebuah keadaan dimana engkau dihadapkan akan sebuah pilihan. Dimana mengungkapkan rasa adalah pilihan kesekian. Sedangkan memperbaiki segala kebobrokan dan kepayahan hidup adalah rutinitas sehari-hari yang tak bisa ditolak.

Share:

Wednesday, October 21, 2020

Menerima

 

Pada akhirnya kamu harus menerima. Bahwa tidak semua apa yang kamu inginkan dapat kamu dapatkan. Pada akhirnya kamu harus memahami bahwa kuasamu hanyalah tidak lebih dari selembar wacana. Kamu harus mengerti dan paham itu. Tidak nyaman memang. Tidak mudah memang. Bisa mengerti, memahami dan menerima. 

Dengan begitu kamu akan tetap berada di jalanmu. Kamu akan tetap mengenali dirimu. Meski dunia bercanda. Meski dunia bersandiwara. Meski dunia tertawa. Namun ia tetaplah kejam. Jika kamu tidak menerima, kamu akan tergilas kekejaman itu. Menerimalah agar engkau selamat. Hapus semua kecewamu dengan tawa.

Menerima tidak sama dengan menyerah. Menerima tidak berarti pecundang. Sebuah kata yang sangat kamu benci menyerah dan pecundang. Tentu tidak ada yang mau menjadi pecundang dan menyerah. Namun menerima harus kamu lakukan. Karena menerima adalah obat. Obat sekaligus penawar bagi dahaga akan kejamnya dunia. 

Namun jangan pula engkau tempatkan menerima sebelum mencari. Sebagaimana engkau menempatkan syukur sebelum usaha. Karena menerima bukanlah pembenaran atas segala gundahmu. Atas segala resahmu. Atas segala kecewamu. Namun menerima adalah langkah mulia setelah engkau mencari. Menerima sebagaimana syukur setelah engkau berusaha.

Mencarilah sesuka hatimu sekehendakmu. Namun kamu harus sadar betul bahwa apapun yang kamu dapat setelah pencarianmu harus kamu terima.  

Share:

Sunday, May 3, 2020

Anak Panah

Hari masih cerah saat Elang rehat sejenak menikmati secangkir dawet ayu di dekat bengkel lokomotif. Di bawah pohon beringin berjajar gerobak pedagang dawet ayu. Kursi plastik dan meja segi empat terlihat banyak yang kosong. Satu dua pengunjung terlihat menyeruput dawet ayu. Elang merebahkan tas ranselnya di kursi kosong. Abang pedagang dawet segera menawarkan dawet.

"Dawet bang?" Tanya abang dawet dengan senyum ramah.
"Iya bang, satu." Sahut Elang sambil mengelap keringat di dahinya dengan bulf.

Sambil menunggu dawet pesanannya jadi, Elang menikmati angin spoi-spoi di bawah pohon beringin. Satu dua kendaraan melintasi jalan di depannya duduk. Seberang jalan merupakan bengkel Lokomotif. Terlihat satu lokomotif datang dari arah timur dan berhenti lurus sejajar dengan tempat duduk Elang. Lokomotif lalu masuk ke dalam bangunan seperti hanggar pesawat. Di sanalah lokomotif itu diperbaiki.

Waktu sudah menunjukan jam 12 tepat. Terik matahari tepat tegak lurus dengan tanah. Lebatnya pohon beringin tak dapat ditembus terik matahari. Menjadikan tempat yang rindang untuk sekedar melepas lelah dan penat para pejalan dan menjadi tempat menjaja bagi pedagang dawet.

Terlihat pegawai bengkel lokomotif keluar dari hanggar dan menuju ke rimbunan pohon beringin. Di bawah pohon beringin di sepanjang jalan selama ada pohon beringin pasti ada pedagang. Bukan hanya pedagang dawet saja melainkan pedagang angkringan, mie ayam, es doger juga ada di sini.

Elang sudah menyeruput cangkirnya berisi dawet ke empat kali, ketika kursi-kursi yang tadi kosong kini mulai terisi penuh. Abang dawet yang tadi sibuk bermain gawai kini mulai sibuk mengantar dawet ke pelanggan.

Elang masih termangu, mencoba mengukur mundur perjalanan yang sudah ia tempuh. Semenjak ia keluar rumah dan keliling komplek ke komplek perumahan maupun pemukiman tak juga berkurang form blanko yang ia bawa. Ia mencoba berfikir keras bagaimana supaya ada pelanggan baru yang ingin menggunakan jasa layanan internet yang ia tawarkan.

Ini merupakan pekerjaan baru baginya. Sudah dua minggu ia menjalaninya. Mengetuk pintu dari rumah ke rumah mencoba menawarkan layanan internet. Berharap ada beberapa orang yang ingin menjadi pelanggan baru.

Setelah ia berhenti dari pekerjaan lamanya di sebuah cafe karena kontraknya habis, ia mencoba menjadi sales sebuah layanan internet. Setiap satu orang yang berhasil menjadi pelanggan baru, ia akan mendapat komisi Rp100.000,-.

Awalnya terlihat mudah baginya. Mengingat internet merupakan kebutuhan utama saat ini. Ia jalani dengan penuh semangat. Ia terus berjalan menghampiri orang demi orang dan menawarkan brosur berisi paket layanan internet. Penolakan demi penolakan ia hadapi dengan senyuman. Ia yakin usahanya kurang keras.

Hingga pada akhirnya titik jenuh menghampiri Elang. Ia merasa sudah selesai. Nampaknya ia merasa gagal setelah dua minggu berkeliling komplek tanpa hasil. Ia tak tahu lagi kemana harus mengarahkan anak panahnya, mengingat sudah hampir seluruh arah mata angin sudah ia lesatkan.

Grup Whatsapp yang menjadi informasi antar tim tak lagi berdering riuh. Nampaknya bukan hanya Elang yang mengalaminya. Hampir semua anggota tim merasakan apa yang dirasakan Elang. Berjalan kemari tak menemui hasil.

Di bawah pohon beringin ia termangu. Merasa sepi di tengah keramaian. Ia merasa hanya ia sendiri manusia di dunia yang bernasib sial. Ingin rasanya ia pulang saja. Namun ia sadar harus makan apa esok jika ia pulang. Ia ragu akan berhasil namun ia juga ragu esok hari akan makan apa jika ia pulang.

Anak panahnya tak lagi tegak ke atas. Kali ini memegangpun ia tak berani. Hingga akhirnya seorang Bapak paruh baya dengan setelan kemeja menepuk bahunya duduk di sampingnya sambil memesan secangkir dawet.

"Bang dawet satu bang." Pinta Bapak kepada Abang dawet.
"Baik pak." Sahut Abang dawet.

"Dari mana dek?" Tanya Bapak kepada Elang.
"Ini Pak dari jalan-jalan, keliling motor." Jawab Elang.
"Kuliah?" Timpal Bapak lagi.
"Enggak Pak." Elang kali ini sambil tersenyum kepada Bapak tersebut.
"Itu apa? coba lihat." Bapak mengambil brosur yang ada di atas tas Elang.

"Hmmm." si Bapak bergumam sambil menghembuskan nafas lalu meneguk dawet yang sudah disajikan.
"Kalau Bapak pasang beginian di rumah jarang ada yang pakai dek." Lanjut Bapak.
"Sudah dapat berapa pelanggan dek hari ini? Tanya Bapak.
"Belum ada Pak. Lagian cuma iseng-iseng aja pak. Ngisi waktu luang." Jawab Elang.
"Lo kerjaan kok iseng-iseng. Pantas gak ada pelanggan. Kalau kerja jangan setengah-setengah dek. Harus total." Sahut Bapak kemudian berdiri mengahmpiri Abang penjaja dawet alu pergi ke arah timur dengan sepeda motor GL Pro.

Elang tetap termangu ke arah bengkel lokomotif di depannya. Kali ini para pegawai sudah mulai kembali ke bangunan bengkel lokomotif untuk kembali bekerja.
Share:

Tuesday, July 9, 2019

Trade-off Kurva Mantan

*Sebuah Padepokan Akhir 2017
Avro melangkah gontai di sebuah lorong. Pandangan matanya lurus ke depan. Setumpuk kertas copy-an digenggaman tangan berisi teori penunjang tugas akhir. Ia baru saja selesai kelas studi batin. Segera menuju ruang Suhu. Bertemu Pak Pilips, Suhu pembimbing tugas akhir. Seorang Suhu dengan gaya nyentrik rambut klimis.

Suhu yang ia cari tak ada di ruangan. Lagi-lagi ia harus menunggu. Tiga kursi kayu terletak  di depan ruang Suhu. Sepertinya memang disediakan bagi para pendekar yang sedang menanti kehadiran Suhu. Sejenak, Avro mengamati ketiga kursi kayu tersebut. Dua kursi yang nampak kuat terletak berdekatan. Sementara satu kursi nampak usang dan rapuh terletak agak jauh. Avro memilih duduk di kursi usang dan rapuh. Entah mengapa Avro merasa iba dengan kursi usang dan tua itu. Sebab sudah kerja semesta, jiwa yang rapuh akan saling iba.

Lalu-lalang para pendekar melintas. Ia tetap merasa sepi. Maklum saja mereka adalah pendekar adik tingkat Avro. Sementara pendekar seperjuangan Avro sudah sibuk dengan urusan pribadi. Jangankan pendekar seperjuangan, Mantan kekasih Avro, Avri saja sibuk dengan urusannya. Lebih menyesakan dada, Avri ditemani Sang Pendekar yang lebih Gagah dibanding Avro. Uhhh ciut mengkerut semakin sesak terasa dada Avro. Ia tak yakin sanggup melewati rintangan yang diberikan para Suhu.

Masih di kursi usang di depan ruang Suhu, Avro memalingkan pikirannya pada kertas berisi teori. Melawan rasa kalutnya ia perlahan mengejanya.

"Trade-off Kurva....."  Matanya sedikit kabur. Ia berusaha melebarkan matanya.

"Trade-off Kurva Mantan." Teori macam apa ini! Avro tak percaya dengan teori yang ia bawa.

Dengan rasa penasaran ia melanjutkan membaca.

"Ketika tingkat ambisi naik, maka tingkat ketertarikan akan turun." Uhh teori macam apa ini. Avro tak percaya. Ia berkali-kali membolak-balik kertas teorinya. Ia berusaha agar fokus dengan tugas akhirnya. Namun bayangan Avri dan segala kenangan terus menghantuinya.

Alhasil seringkali ia menjadi bulan-bulanan Suhu pembimbingnya karena teori-teori yang ia bawa sama sekali tak berkorelasi dengan tugas akhirnya. 

Sementara Avri diseberang kisah lainnya ditemani pendekar menyambut mimpi-mimpi barunya. Ia berhasil lulus dari padepokan. Sebuah padepokan yang hampir sepertiganya dilalui bersama Avro, meski diujung kisahnya tokoh bernama Avro menghilang bak mati di medan perang.

Jangankan mengucapkan selamat, mengucapkan sapa saja Avro tak sudi. Avro benar-benar benci. Ia benci kepada segala hal, kecuali Avri. Ia benci kepada semesta yang telah mengerjai dan membully.

Avro yakin dan sanggup menerima bahwa Tuhan menciptakan segalanya berdua tidak sendiri. Siang dan malam Avro tak takut menghadapinya. Panas dan dingin Avro tak takut menghadapinya. Berhasil dan gagal Avro tak takut menghadapinya.

Namun kali ini, persatuan dan perpisahan, Avro tak sanggup menghadapinya. Jiwanya linglung pikirannya meracau. Ia jatuh ke lembah paling dasar.

***
*Awal 2018 di Sebuah Padepokan
Sebuah awal tahun menjadi energi semangat bagi Avro. Dengan tekad dan niat yang kuat ia berjanji akan mengakhiri segala urusannya di padepokan. Ia lebih semangat meramu teori-teori yang akan ia olah untuk tugas akhirnya. Ruang Suhu menjadi tempat tak asing baginya. Menunggu sendirian, berjalan sendirian sudah menjadi ciri khas pendekar angkatan tua.

Rutinitas menyelesaikan tugas akhirnya kadang membuatnya bosan. Tak ayal kegiatan lain sering ia lakukan. Berkelana menjadi kegiatan paling menarik baginya. Semenjak kisahnya bersama Avri usai, ia menjadi penikmat sepi dan sunyi. Baginya sepi dan sunyi adalah teman curhat yang paling nyaman.

Hati menjadi tenang dipeluk sepi. Gundah pudar dibekap sunyi. Perlahan ia mencari arah yang sempat hilang karena kisah. Sesekali ia bertasbih kepada Tuhan. Oh Tuhan, Engkau memang perangkai kisah. Sungguh tiada kisah yang lebih melainkan kisah yang Engkau rangkai.

Ia bangkit menjadi pendekar seperti sediakala. Langkahnya tak lagi gontai. Langkahnya tegap menatap lorong semesta. Ia pungut segala teori. Pada rumput, pada tanah, pada batu, pada udara, pada cahaya, pada langit, dan semua unsur yang menjadi penanda senja dan pagi.

Ia berjalan menuju ruang Suhu tak lagi gentar. Segala sayatan dan sabetan pedang Suhu tak lagi menggoyahkan. Berkali-kali sabetan dan sayatan, berkali-kali ia berdiri. Ujung tombak kisahnya di padepokan semakin runcing. Semakin ia sampai di ujung.

Ia sanggup meyakinkan teori kepada para Suhu yang semula meragu. Sebuah teori yang semula telihat menye ia lantangkan menjadi teori memukau para Suhu. "Trade-off Kurva Mantan" sebuah teori yang ia temu dari pustaka-pustaka semesta telah menjadikannya pendekar yang ulung. Teori yang ia pungut dari rumput, batu, tanah dan langit. Telah mengubah jiwanya menjadi lantang.

Kamus kisah dengan Avri tak lagi menjadi buku utama bacaan Avro. Semenjak perjalanan berkelana, ia menemukan buku-buku yang telah membuka mata seluas cakrawala. Memupuk jiwanya setegar jalur pendakian. Hingga ia mampu menyudahi kisahnya di padepokan dengan gagah perkasa meski seorang diri.
***
*Beberapa purnama setelah kelulusan
Avro telah menjadi pendekar yang sesungguhnya. Bukit demi bukit telah ia lalui dengan mesra. Ia bercumbu dengan semesta. Hingga membuat permaisuri-permaisuri di negeri seberang cemburu menggerus dada.

Sementara Avri kembali menyapa. Menanyakan kisah yang telah usang di padepokan. Terlihat basa-basi semata, juga terasa menyayat dada.

Namun Avro sekarang tidak mudah lagi disayat. Jiwa pendekarnya telah bulat. Ia tak lagi berjalan gontai. Ia menatap tajam ke depan tepat di kerumunan permaisuri-permaisuri negeri seberang yang juga menatap dengan penuh pesona.



Lembah Kehidupan, 7 Purnama setelah kelulusan
Sebuah catatan kisah
Avro Sang Pendekar
Share:

Monday, May 13, 2019

GERPOLEK: Tan Malaka, Resensi Buku

Resensi buku
Judul buku: GERPOLEK
Pengarang: Tan Malaka
Penerbit: Narasi
Cetakan pertama 2018
ISBN 979-168-547-9
Tebal buku: 140 hlm, 14 x 20 cm

Tan Malaka sangat merisaukan makin menciutnya wilayah Republik dengan berdirinya negara boneka bentukan Belanda. Sementara kaum kapitalis, kolonialis, dan imperialis berhasil mengacaukan perekonomian dan keuangan Republik Indonesia. Karena itu Tan Malaka tidak mengenal kompromi dengan kekuatan kolonialisme dan imperialisme. Ia tidak menyetujui perundingan dengan lawan. Ia menganggap berunding adalah sikap mengorbankan kedaulatan dan kemerdekaan rakyat.

Gerpolek merupakan buku yang dikonsep dan ditulis oleh Tan Malaka ketika dirinya meringkuk di penjara Madiun. Buku ini ditulis tanpa dukungan informasi kepustakaan apapun. Ia hanya mengandalkan pengetahuan, ingatan, dan semangat kepemimpinan untuk tetap memikirkan kelangsungan Republik tercinta. 

Kini di zaman modern kata "merdeka" seperti telah tergerus dalam pengertian yang semu. Campur tangan pihak asing dan kepentingan pribadi telah mengalahkan semangat proklamasi. Karena itu tulisan ini masih relevan untuk disimak. Melalui karya besarnya ini, Tan Malaka menyatakan sikapnya tentang politik dan ekonomi yang bebas dan merdeka.

Menurut Tan Malaka Gerpolek adalah senjata Sang Gerilya buat membalas Proklamasi 17 Agustus dan melaksanakan kemerdekaan 100% yang sekarang sudah merosot ke bawah 10%. Sementara Sang Gerilya adalah seorang putra atau putri, seorang pemuda atau pemudi, seorang Murba atau Murbi Indonesia, yang taat dan setia kepada Proklamasi dan kemerdekaan 100% dengan menghancur-leburkan siapa saja yang memusuhi Proklamasi serta kemerdekaan 100%.

Dalam buku ini tiga pokok bahasan menjadi inti dari buku ini yakni perang gerilya, politik, dan ekonomi. Perang Gerilya tertuang dalam bab xi, perang politik-diplomat tertuang dalam bab xii, serta perang ekonomi tertuangg dalam bab xiii.

Kelebihan buku ini memuat strategi dan sikap seorang Tan Malaka yang sangat idealis dalam gerilya, politik dan ekonomi. Sementara kekurangan buku ini ditulis tanpa literature kepustakaan yang cukup mengingat buku ini ditulis seorang Tan Malaka sendiri di dalam Penjara Madiun.
Share:

Thursday, March 21, 2019

Tahta

Tahta
Kursi bukan sekedar kursi
Tempat bergantung mimpi
Hajat jutaan rakyat mengisi
Bersiap menagih janji

Tahta
Tak sedikit mengaku pewaris
Segala cara mengadu nasib
Benar salah bukan lagi semesta
Melainkan pemilik petak

Tahta
Sebaik-baiknya
Sehormat-hormatnya
Tidak menjadikan
Kemanusiaan sebagai biaya

Filsufpejalan
#HariPuisiSedunia
Share:

Thursday, March 7, 2019

Aksi Massa : Tan Malaka, Resensi buku

Resensi buku
Judul buku: Aksi Massa
Pengarang: Tan Malaka
Penerbit: Narasi
Cetakan pertama 2018
ISBN 979-168-549-5
Tebal buku: 148 hlm, 14,5 x 21 cm
Oleh Sapta Hamdallah Putra


Pemikiran Tan yakni upaya perebutan kekuasaan dengan radikal (putch) bukanlah solusi terbaik. Menurutnya Putch adalah satu aksi segerombolan kecil yang bergerak diam-diam dan tak berhubungan dengan rakyat banyak. Gerombolan itu bisanya hanya membuat rancangan menurut kemauan dan kecakapan sendiri tanpa memedulikan perasaan dan kesanggupan massa. Tukang-tukang putch lupa bahwa revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil berbagai macam keadaan. 

Bila tukang-tukang putch pada waktu yang telah ditentukan oleh mereka sendiri, keluar tiba-tiba, massa tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka. Bukan karena masa bodoh atau tidak memperhatikan, melainkan karena massa hanya berjuang untuk kebutuhan yang terdekat dan sesuai dengan kepentingan ekonomi.

Agar sebuah gerakan dapat mencapai tujuannya, Tan menawarkan Aksi Massa sebagai solusinya. Karena Aksi Massa tidak mengenal fantasi kosong seorang tukang putch atau seorang anarkis atau tindakan berani dari seorang pahlawan. Aksi massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka.

Dengan alasan inilah Tan Malaka menolak rencana pemberontakan Partai Komunikasi Indonesia (PKI) 18 Juni 1926 yang dinilainya terlalu sembrono dan sama sekali tidak mempertimbangkan dasar-dasar aksi massa. Terbukti kemudian pemberontakan itu gagal. Banyak pemimpin PKI yang ditangkap dan dibunuh. Buku ini ditulis oleh Tan Malaka pada sekitar tahun 1926, saat ia meloloskan diri dari Indonesia dan masuk ke Singapura dengan menggunakan nama Hasan Gozali. 

Buku ini memaparkan mengenai revolusi yang menurut Tan, revolusi itu bukanlah ide yang luar biasa dan istimewa serta bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa. Sebuah revolusi disebabkan oleh pergaulan hidup suatu akibat tertentu dari tindakan-tindakan masyarakat. Atau dalam kata-kata yang dinamis ia adalah akibat tertentu dan tak terhindarkan yang timbul dari pertentangan kelas yang kian hari kian tajam. Tujuan sebuah revolusi ialah menentukan kelas mana yang akan memegang kekuasaan negeri, politik, dan ekonomi, dan revolusi itu dijalankan dengan "kekerasan".

Tan juga memaparkan riwayat Indonesia. Menurutnya riwayat Indonesia tak mudah dibaca apalagi dituliskan. Riwayat negeri kita penuh dengan kesaktian, dongeng-dongeng, karangan-karangan dan pertentangan. Tak ada seorangpun ahli riwayat dari kerajaan Majapahit atau Mataram yang mempunyai persamaan dengan ahli riwayat bangsa Roma kira-kira di zaman 1400 tahun yang silam, seperti Tacitus dan Caesar. Kita terpaksa mengakui bahwa kita tak pernah mengenal ahli riwayat yang jujur.

Selain itu Tan juga memaparkan bagaimana Imperialisme, Kapitalisme dan Keadaan Sosial di Indonesia. Menurutnya hubungan antara bumiputera dengan pemerintah kolonial kala itu bumiputera sebagai buruh sementara kolonial sebagai kapital. Hal ini terlihat tidak ada satupun pemodal dari kalangan bumiputera. Hal ini menyebabkan pertentangan kelas yang tajam yang mana akan menyebabkan perawanan dari bangsa Indonesia. Sementara keadaan sosial saat itu jelas bangsa Indonesia sebagai buruh diperas demi keuntungan kolonial. Penderitaan rakyat dirasakan semakin hari semakin kejam.

Tan juga memaparkan alat-alat yang digunakan untuk revolusi serta gerakan kemerdekaan Indonesia kala itu. Menurutnya Partai Borjuis di Indonesia seperti Budi Utomo, PNI, dan SI mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan karena kapital besar bumi putera tidak ada sehingga program nasional dan organisasi mereka sebagai partai borjuis tak tahan hidup.

Tan juga memaparkan konsep Federasi Republik Indonesia. Menurutnya kita tidak boleh aksi kita hanya sebatas pada kemerdekaan bangsa Indonesia yang terhindar oleh imperialisme Belanda. Pembatasan seperti itu akan segera menyempitkan kita dalam arti ekonomi, strategi dan politik.

Kelebihan buku ini yakni buku ini dapat memberikan latar belakang permasalahan yang dialami bangsa Indonesia dan sekaligus memberikan konsep akan sebuah negara. Dengan membaca buku ini kita seolah berkonsultasi langsung dengan seorang konseptor yang akan membuat kita berdecak kagum.


Share:

Berlangganan