Hidup bukan sekedar hidup

Sunday, February 10, 2019

Ditikung Waktu

Seto tidak habis pikir. Dia kecewa berat. Marah pada waktu. Ingin rasanya dia berhadap-hadapan. Melampiaskan amarahnya pada waktu. Menghajar waktu hingga babak belur. Ia tak habis pikir pengabdiannya seumur hidup ia habiskan hanya untuk waktu semata. Rasa sabarnya ia berikan sepenuhnya untuk waktu. Nafsu asmaranya rela mengalah kepada waktu. Tapi mengapa waktu tega mengkhianatinya.

Amarahnya semakin meledak. Membelah jalanan. Mengabaikan semua yang berpacu dengannya. Jarum spedometernya bergerak cepat berpacu dengan laju motornya. Namun luput dari jepretan lensa matanya. Tatapan matanya semakin buram oleh peluh airmatanya yang tak terbendung. Darahnya mengalir cepat berbanding lurus dengan laju motornya. Gejolak amarahnya semakin menjadi. Hingga silau sorot lampu yang tak pernah ia lihat sebelumnya menampar wajahnya. Brakkk!

Ia tersengal hebat. Nafasnya menggelinjang. Berontak dari paru-parunya mencari celah untuk keluar. Namun gagal. Ia menyerah. Melayang-layang. Dengan sisa memorinya seolah memutar waktu hidupnya kebelakang. Ia masuk ke ruang kelasnya. Seperti biasa Sita satu-satunya gadis yang pertama kali tertangkap lensa mata Seto ketika memasuki  kelas setiap harinya. Maklum Sita duduk di meja paling depan. Meja Seto dan Sita berdampingan. Sita adalah gadis pujaan hatinya dimasa putih biru-biru.

Dipagi hari mereka nampak bak orang yang tak pernah kenal. Hanya saling mengamati. Sesekali mencuri pandang dan berkali-kali matanya segaris tepat berpapasan. Namun disiang hari mereka berubah bak sahabat akrab tanpa canggung dan rasa bosan. Lain halnya ketika pulang sekolah. Meski tak bersanding bersepeda bersama. Tapi mereka saling menanti. Jika di depan pura-pura melambat biar tak sengaja disalip. Jika di belakang sungguh-sungguh menaikan kecepatan biar bisa mengikuti.

Lain halnya ketika sudah sampai di rumah. Mereka saling menanti sms masuk. Log in di facebook sekadar menampakan diri bahwa sedang online. Hingga mendengarkan radio hanya sekadar menanti salam yang datang. Hingga puncaknya di malam hari dapat dipastikan "Assallamuallaikum, Malam, Sedang apa" adalah sebuah pesan yang mengawali obrolan setiap malam.

Seto bergulat dengan batin. Nafsu asmaranya ingin berontak menampakan diri. Namun akalnya menghadang. "Seto perbuatanmu akan sia-sia, jika kau biarkan nafsu asmaramu berontak keluar. Hatimu mungkin akan bahagia. Namun tak ada jaminan kau memilikinya seutuhnya Seto. Waktumu masih panjang. Sabarlah Seto. Simpanlah. Ungkapkan kelak diwaktu yang tepat." Demikian perintah akal Seto.

Sejak saat itu Seto sangat hormat kepada waktu. Bahkan ia rela menghamba kepada waktu. Waktu menjadi diksi yang paling berharga baginya. Ia sangat takzim. Ia pendam nafsu asmaranya. Ia serahkan kepada waktu. Ia rela pujaan hatinya dicumbu oleh waktu. Ia rela pujaan hatinya dimadu kasih oleh waktu. Tujuh tahun lamanya. Ia serahkan pujaan hatinya kepada waktu. Ia percaya waktu akan menjaga pujaan hatinya. Karena ia percaya hanya manusia yang akan mengkhianatinya. Sementara waktu akan memihak kepadanya. Waktu tidak akan pernah mengkhinatinya.

Meski waktu lambat laun menjauhkan Seto dengan pujaan hatinya. Ia yakin waktu akan tetap memihak kepadanya. Ia yakin itu bagian dari cara waktu menjaga pujaan hatinya. Hingga pada akhirnya tepat sesaat setelah ia menyelesaikan kewajibannya. Ia yakin ini adalah saat yang tepat yang dijanjikan oleh waktu.

Diam-diam ia menyusun puzzle kisah-kisahnya bersama pujaan hatinya. Ia diam-diam memperhatikan pujaan hatinya. Sama seperti tujuh tahun yang lalu ketika masa putih biru-biru. Sesekali pujaan hatinya lewat di layar gawainya dan berkali-kali saling bertanya kabar.

Mulai dari situlah Seto benci kepada waktu. Ia marah kepada waktu. Ia kecewa berat. Ingin rasanya dia berhadap-hadapan. Melampiaskan amarahnya pada waktu. Menghajar waktu hingga babak belur. Ia tak habis pikir pengabdiannya seumur hidup ia habiskan hanya untuk waktu semata. Rasa sabarnya ia berikan sepenuhnya untuk waktu. Nafsu asmaranya rela mengalah kepada waktu. Tapi mengapa waktu tega mengkhianatinya. Hal itu terjadi saat Seto membaca layar gawainya "Maaf aku sudah ada yang punya."

Pujaan Hatinya, Sita, ditikung waktu.

Ia tersengal hebat. Nafasnya menggelinjang. Berontak dari paru-parunya mencari celah untuk keluar. Namun gagal. Ia menyerah. Melayang-layang. Antara hidup dan mati. Terbaring di UGD sebuah rumah sakit. Setelah berjuang melewati jalanan kota dengan ambulan.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Berlangganan