Hidup bukan sekedar hidup

Sunday, February 10, 2019

Si Gonteng Seekor Semut

Suasana panas politik sedang berlangsung di Negara Republik Pasir atau yang lebih gagah dikenal dengan NRP. NRP adalah negara bangsa semut dengan sistem pemerintahan demokrasi. Sudah menjadi risiko negara dengan sistem pemerintahan demokrasi. Pasti selalu bergejolak ketika berlangsung pemilihan pemimpin dalam sebuah acara PEMERAS dengan kepanjangan Pemilihan Merakyat Rakyat Semut.

Letak geografis NRP terletak di depan sebuah proyek pembangunan jembatan. Lebih tepatnya berada di puncak gundukan pasir yang nampak abadi karena proyek dihentikan sementara. Bangsa semut sangat bersyukur bisa mendirikan negara di gundukan pasir proyek. Maklum sebagai bangsa yang tidak ditakdirkan Tuhan menjadi pemimpin di muka bumi, mereka terpaksa harus memindahkan negaranya dengan periode waktu yang tidak tentu.

Kadang mereka mendirikan negara di tanah tetapi harus pergi karena dibangun jalan. Kadang mereka mendirikan negara di batang pohon tetapi juga terpaksa harus pergi karena pohonnya tumbang ditebang. Kali ini mereka sangat bersyukur dengan proyek yang mangkrak setidaknya bangsa semut bisa bertahan di gundukan pasir.

Tahun ini sedang berlangsung tahun politik. Semua rakyat semut sibuk menyambut hiruk pikuk PEMERAS. Namun tidak berlaku bagi Gonteng seekor semut muda pekerja. Kawan sebayanya menyebut si Gonteng ini semut yang apatis. Tidak peduli dengan keberlangsungan negaranya. Namun hal itu tidak terlalu menyita pikiran si Gonteng. Sebagai semut pekerja ia terlalu sibuk untuk bekerja. Sebab ada si Merah, semut muda yang cantik yang menjadi impian si Gonteng.

Aturan yang berlangsung di PEMERAS petahana tidak boleh mencalonkan lagi menjadi pemimpin. Dalam arti setiap periode pemimpin bangsa semut pasti ganti. Hal ini terjadi karena antusias rakyat semut untuk menjadi pemimpin sangat banyak sekali. Hampir setiap periode PEMERAS calon-calon pemimpin selalu saja terdapat wajah baru. Pemimpin yang pernah menjabat dan calon pemimpin yang pernah gagal dipastikan tidak akan berani tampil dipanggung lagi. Karena sudah menjadi kehendak rakyat semut wajah baru pasti menjadi primadona.

Namun sungguh berbeda dengan PEMERAS periode ini. Biasanya tercipta puluhan kubu tetapi kali ini tercipta empat kubu yang sangat runcing dan sangat kuat. Kubu tersebut yakni kubu semut muda laki-laki, kubu semut muda perempuan, kubu semut tua laki-laki, dan kubu semut tua perempuan. Tak diragukan lagi dari segi kesetaraan gender, bangsa semut patut diacungi jempol.

Akibat terciptanya kubu yang sangat runcing, suasana politik terasa sangat panas dan  bahkan kurang sehat. Tersebar isu dikalangan rakyat semut bahwa PEMERAS periode ini sangat menentukan nasib NRP yaitu negara bangsa semut. Isu-isu tersebut sangat tidak masuk akal dan terkesan menggelitik tapi menjadi isu yang sangat signifikan.

Seperti jika semut muda laki-laki terpilih menjadi pemimpin maka dapat dipastikan bangsa semut akan menjadi pemimpin di muka bumi. Bukankah sudah takdir Tuhan bukan bangsa semutlah pemimpin di muka bumi.

Jika semut muda perempuan terpilih menjadi pemimpin maka dapat dipastikan letak geografis NRP di puncak gundukan pasir tidak akan tergoyahkan. Bahkan pelaksana proyek pun akan melindunginya. Meskipun tidak ada dasar pasti akan hal ini tapi rakyat semut pendukung pemimpin ini sangat meyakininya.

Lain halnya dengan semut tua baik laki-laki maupun perempuan pendukung masing-masing diantara mereka meyakini satu hal bahwa Orang Tua merupakan solusi dari semua solusi. Mereka meyakini satu prinsip bahwa apapun masalahnya larilah ke Orang Tua. Lagi-lagi bangsa semut selalu meyakini sesuatu tanpa adanya riset terlebih dahulu.

Ke empat kubu tersebut selalu menebar manuver. Begitupun dengan pendukungnya. Saling perang melalui ANTBOOK yaitu sosmed yang sangat terkenal di kalangan bangsa semut. Saking gencarnya aktivitas antwar, semacam twitwar bangsa sebelah. Sampai-sampai Dewan Keamanan NRP atau disingkat DEKAP sibuk menangkapi simpatisan kubu yang menyimpang.
***
Suatu siang si Gonteng termenung dengan bangsanya NRP. Bukankah PEMERAS itu hanyalah kegiatan rutin dalam kehidupan bernegara. Kenapa semua orang pada latah. Bukankah kegiatan PEMERAS itu hanya sehari doang. Kenapa harus dibuat pusing bertahun-tahun. Sampai-sampai saling bermusuhan sesama semut. Saling baku hantam sesama semut.

Si Gonteng lalu menjatuhkan air mata. Bukan karena si Merah semut pujaannya bertunangan dengan orang lain. Melainkan karena si Gonteng bingung kenapa sekian banyak rakyat NRP, rakyat semut tidak ada yang memikirkan kemana kita harus memindahkan Negara Republik Pasir kalau bangsa sebelah melanjutkan proyeknya. Rakyat Negara Republik Pasir hanya sibuk satu hal yaitu kegiatan PEMERAS.

Kegiatan PEMERAS pun sukses digelar. Terpilihlah semut muda perempuan sebagai pemimpin NRP, pemimpin bangsa semut. PEMERAS sudah usai digelar. Namun permusuhan diantara sesama semut tak kunjung berhenti. Masih saja ketegangan berlangsung berlarut-larut.

Dugaan si Gonteng pun benar. Bangsa sebelah melanjutkan proyek jembatan. Buldozer menggaruk gundukan pasir dari puncaknya. Hancurlah Negara Republik Pasir. Sesaat setelah pelantikan pemimpin barunya.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Berlangganan