Satu hal di dunia ini yang tidak membutuhkan modal, "bahagia". Sedangkan bahagia adalah ketika kamu hidup dengan pikiran tanpa belenggu. Maka hancurkanlah setiap belenggu yang mengekangmu

Friday, October 5, 2018

Cerita Sederhana di Bawah Temaram, Sebuah Jurnal #2

   Semakin malam tenda-tenda yang berdiri di belakang kami semakin banyak. Rombongan-rombongan mulai berdatangan, maklum kami termasuk golongan awal yang datang ke pantai. Alhasil suara kegaduhan suka ria muncul diantara kerumunan tenda-tenda tersebut. Ada yang sedang berusaha mendirikan tenda, ada yang menyalakan api unggun, ada yang bernyanyi bersama. Fokus kami tak lagi ke bintang-bintang yang ada di angkasa melainkan menyaksikan hiruk pikuk orang-orang di belakang tenda kami.



Tak lama setelah itu kami dikagetkan dengan deburan ombak yang terasa semakin besar entah itu hanya pikiran kami atau bagaimana yang jelas itu tak membuat kami tenang. Deburan ombak tersebut benar-benar menyita perhatian kami mengingat tenda kami berdiri di garis depan pantai. Beberapa menit sekali sorot lampu senter kami arahkan ke bibir pantai untuk melihat air laut. Rupanya tenda-tenda di belakang kami juga was-was dengan pasang air laut. Berkali-kali sorot lampu senter menyoroti bibir pantai dari tenda-tenda.

Semakin malam bibir pantai semakin tidak terlihat meskipun dengan sorot lampu senter. Alhasil kami berusaha membuat penanda sekiranya bisa memantulkan cahaya senter. Hafidh berlari ke belakang tenda untuk mencari ranting sementara Sidiq mencari benda yang bisa memantulkan cahaya. Didapatlah plastik mengkilat yang bisa memantulkan cahaya senter. Ari menuju ke bibir pantai dan menancapkan ranting sekitar 2 meter dari bibir pantai dengan unjungnya diikat plastik. Hal tersebut memudahkan kita untuk mengamati kondisi bibir pantai apabila ranting tersebut masih ada berarti masih aman.

Sesekali si penjaga pantai datang kembali untuk ikut mengawasi bibir pantai untuk mengantisipasi apabila terjadi pasang. Menurutnya lokasi tenda kami masih aman dan tidak akan sampai apabila terjadi pasang. Hal tersebut dengan melihat riwayat pasang malam sebelumnya yang masih jauh dari tempat kami mendirikan tenda.

Demikian juga bapak penjaga toilet yang paling dekat dengan tenda kami sebut saja Bapak Tomo. Bapk Tomo ikut menenangkan kami “Tenang saja gak akan kena ombak, masih jauh kok” begitu analisis Bapak Tomo yang kemudian beralih untuk ngobrol dengan topik lain. Menurut Bapak Tomo pantai Greweng ini kalau musim penghujan berupa sungai dari hulu sehingga pantainya terbelah. Sehingga pada musim penghujan lokasi untuk ngecamp hanya berada di sebelah timur. Beruntung kami datang pada musim kemarau jadi sangat terasa luas hamparan pasir putih nan halusnya.

Semakin larut malam kami mulai terasa lapar. Nasi rames yang kami makan tadi sore rupanya belum membuat kami kenyang. Maklum nasi beli di pasar dekat pantai sehingga beda dengan porsi kami di rumah hehehe. Kami berinisiasi untuk membuat mie goreng. Kompor kembali kami nyalakan, memulai dengan merebus air. Sembari menunggu air mendidih aku mempersiapkan 4 mie goreng namun belum aku buka kemasannya. Sementara ari tetap mengamati bibir pantai dengan lampu senternya. Semenjak penjelasan dari Pak Tomo dan si penjaga pantai aku mulai tenang dan tak agi risau dengan kondisi bibir pantai. Kali ini aku duduk menghadap kompor dan membelakangi pantai. Sementara Hafidh dan Sidiq di sampingku.

Ketika aku sedang mengamati air di atas kompor untuk menanti mendidih tiba-tiba Ari memberi tanda bahwa air semakin mendekat. Ranting penanda di bibir pantai yang kami pasang sudah hanyut terkena ombak. Ari semakin yakin bahwa tenda kita akan terkena ombak pasang apabila tidak segera pindah. Namun kami tetap percaya analisis Pak Tomo dan si penjaga penjaga pantai. Merekakan sudah setiap hari di pantai jadi lebih tahu kondisi pantai begitu Hafidh menimpali. Sementari aku tidak begitu tertarik lagi dengan kondisi bibir pantai dan tetap mengamati air ketika mendidih di atas kompor.

Tak lama kemudian Ari kembali berteriak. Kali ini lebih keras dan sambil lari ke arah tenda. Aku toleh kebelakan dan ombak telah sampai kurang dari semeter di belakang tempatku duduk. Seketika bruuuusssssssss. Aku lari ke arah tenda dan yang ku pikirkan hanya mengangkat tenda dan membawanya mundur ke belakang. To be Continued
Share:

0 comments:

Post a Comment

Berlangganan