Hidup bukan sekedar hidup

Thursday, October 22, 2020

Srikandi

 Satu dua tiga jam berlalu. Raut wajahnya masih nampak menawan. Ia gulung charger laptop sebagai pertanda berakhir sesi presentasi. Setiap gerak nyaris sempurna tak kurang apapun. Menawan dan sempurna. Kemampuan publik speaking yang ia miliki menjadi kunci daya tarik.

"Ah sial apalah aku yang tak kuasa. Bahkan untuk sekedar menahan rasa aku tak berkuasa. Apalagi mengungkapkan rasa." Gumam Andi dalam kemelut batin.

 Ia tak mampu menahan rasa sekaligus tak mampu mengungkapkan rasa. Sebuah situasi yang sangat pelik. Bukan kehendaknya rasa itu datang. Bukan kemauannya rasa itu tiba. Melainkan sebuah anugerah yang datang begitu saja (kata pujangga) atau sebuah luka yang sudah dirasa meski takdir belum bergaris.

satu dua tiga detak jantung beradu dengan detak akal yang tak selaras.  Jantungnya seakan malaikat penyampai pesan dari rasa. Akalnya seakan manusia yang selalu penuh pertimbangan. Rasa itu sungguh menyiksa.

Kebobrokan dan kepayahan hidup yang dimiliki Andi membuat nyalinya ciut. Sekedar memimpikan, memiliki secuil hati saja tak berani. Sebuah semboyan sakti "Jika tak mencari bagaimana engkau tahu" nyatanya hanya sebatas teori. Dihadapan realita ia polos tanpa senjata.

Detik demi detik mengejek dalam setiap kedip mata. Sebuah nama yang begitu agung. Menghiasi setiap jeda kehidupan.  Ingin sekali Andi berontak melawan segala belenggung rasa. Menumpahkan, meluapkan semua isi yang ia pendam. Lagi-lagi akal berbisik bahwa timing belum tepat.

Adakala dalam hidup engkau harus menunda segala ingin dan harap. Adakala dalam hidup engkau harus menyerah terhadap waktu. Meski waktu berlari tak secepat cahaya tetap saja engkau tak sanggup mengimbangi. Pada akhirnya engkau harus menunda sekian detik atau bahkan tak terukur segala ingin dan harap.

Sebuah keadaan dimana engkau dihadapkan akan sebuah pilihan. Dimana mengungkapkan rasa adalah pilihan kesekian. Sedangkan memperbaiki segala kebobrokan dan kepayahan hidup adalah rutinitas sehari-hari yang tak bisa ditolak.

Share:

Wednesday, October 21, 2020

Menerima

 

Pada akhirnya kamu harus menerima. Bahwa tidak semua apa yang kamu inginkan dapat kamu dapatkan. Pada akhirnya kamu harus memahami bahwa kuasamu hanyalah tidak lebih dari selembar wacana. Kamu harus mengerti dan paham itu. Tidak nyaman memang. Tidak mudah memang. Bisa mengerti, memahami dan menerima. 

Dengan begitu kamu akan tetap berada di jalanmu. Kamu akan tetap mengenali dirimu. Meski dunia bercanda. Meski dunia bersandiwara. Meski dunia tertawa. Namun ia tetaplah kejam. Jika kamu tidak menerima, kamu akan tergilas kekejaman itu. Menerimalah agar engkau selamat. Hapus semua kecewamu dengan tawa.

Menerima tidak sama dengan menyerah. Menerima tidak berarti pecundang. Sebuah kata yang sangat kamu benci menyerah dan pecundang. Tentu tidak ada yang mau menjadi pecundang dan menyerah. Namun menerima harus kamu lakukan. Karena menerima adalah obat. Obat sekaligus penawar bagi dahaga akan kejamnya dunia. 

Namun jangan pula engkau tempatkan menerima sebelum mencari. Sebagaimana engkau menempatkan syukur sebelum usaha. Karena menerima bukanlah pembenaran atas segala gundahmu. Atas segala resahmu. Atas segala kecewamu. Namun menerima adalah langkah mulia setelah engkau mencari. Menerima sebagaimana syukur setelah engkau berusaha.

Mencarilah sesuka hatimu sekehendakmu. Namun kamu harus sadar betul bahwa apapun yang kamu dapat setelah pencarianmu harus kamu terima.  

Share:

Sunday, May 3, 2020

Anak Panah

Hari masih cerah saat Elang rehat sejenak menikmati secangkir dawet ayu di dekat bengkel lokomotif. Di bawah pohon beringin berjajar gerobak pedagang dawet ayu. Kursi plastik dan meja segi empat terlihat banyak yang kosong. Satu dua pengunjung terlihat menyeruput dawet ayu. Elang merebahkan tas ranselnya di kursi kosong. Abang pedagang dawet segera menawarkan dawet.

"Dawet bang?" Tanya abang dawet dengan senyum ramah.
"Iya bang, satu." Sahut Elang sambil mengelap keringat di dahinya dengan bulf.

Sambil menunggu dawet pesanannya jadi, Elang menikmati angin spoi-spoi di bawah pohon beringin. Satu dua kendaraan melintasi jalan di depannya duduk. Seberang jalan merupakan bengkel Lokomotif. Terlihat satu lokomotif datang dari arah timur dan berhenti lurus sejajar dengan tempat duduk Elang. Lokomotif lalu masuk ke dalam bangunan seperti hanggar pesawat. Di sanalah lokomotif itu diperbaiki.

Waktu sudah menunjukan jam 12 tepat. Terik matahari tepat tegak lurus dengan tanah. Lebatnya pohon beringin tak dapat ditembus terik matahari. Menjadikan tempat yang rindang untuk sekedar melepas lelah dan penat para pejalan dan menjadi tempat menjaja bagi pedagang dawet.

Terlihat pegawai bengkel lokomotif keluar dari hanggar dan menuju ke rimbunan pohon beringin. Di bawah pohon beringin di sepanjang jalan selama ada pohon beringin pasti ada pedagang. Bukan hanya pedagang dawet saja melainkan pedagang angkringan, mie ayam, es doger juga ada di sini.

Elang sudah menyeruput cangkirnya berisi dawet ke empat kali, ketika kursi-kursi yang tadi kosong kini mulai terisi penuh. Abang dawet yang tadi sibuk bermain gawai kini mulai sibuk mengantar dawet ke pelanggan.

Elang masih termangu, mencoba mengukur mundur perjalanan yang sudah ia tempuh. Semenjak ia keluar rumah dan keliling komplek ke komplek perumahan maupun pemukiman tak juga berkurang form blanko yang ia bawa. Ia mencoba berfikir keras bagaimana supaya ada pelanggan baru yang ingin menggunakan jasa layanan internet yang ia tawarkan.

Ini merupakan pekerjaan baru baginya. Sudah dua minggu ia menjalaninya. Mengetuk pintu dari rumah ke rumah mencoba menawarkan layanan internet. Berharap ada beberapa orang yang ingin menjadi pelanggan baru.

Setelah ia berhenti dari pekerjaan lamanya di sebuah cafe karena kontraknya habis, ia mencoba menjadi sales sebuah layanan internet. Setiap satu orang yang berhasil menjadi pelanggan baru, ia akan mendapat komisi Rp100.000,-.

Awalnya terlihat mudah baginya. Mengingat internet merupakan kebutuhan utama saat ini. Ia jalani dengan penuh semangat. Ia terus berjalan menghampiri orang demi orang dan menawarkan brosur berisi paket layanan internet. Penolakan demi penolakan ia hadapi dengan senyuman. Ia yakin usahanya kurang keras.

Hingga pada akhirnya titik jenuh menghampiri Elang. Ia merasa sudah selesai. Nampaknya ia merasa gagal setelah dua minggu berkeliling komplek tanpa hasil. Ia tak tahu lagi kemana harus mengarahkan anak panahnya, mengingat sudah hampir seluruh arah mata angin sudah ia lesatkan.

Grup Whatsapp yang menjadi informasi antar tim tak lagi berdering riuh. Nampaknya bukan hanya Elang yang mengalaminya. Hampir semua anggota tim merasakan apa yang dirasakan Elang. Berjalan kemari tak menemui hasil.

Di bawah pohon beringin ia termangu. Merasa sepi di tengah keramaian. Ia merasa hanya ia sendiri manusia di dunia yang bernasib sial. Ingin rasanya ia pulang saja. Namun ia sadar harus makan apa esok jika ia pulang. Ia ragu akan berhasil namun ia juga ragu esok hari akan makan apa jika ia pulang.

Anak panahnya tak lagi tegak ke atas. Kali ini memegangpun ia tak berani. Hingga akhirnya seorang Bapak paruh baya dengan setelan kemeja menepuk bahunya duduk di sampingnya sambil memesan secangkir dawet.

"Bang dawet satu bang." Pinta Bapak kepada Abang dawet.
"Baik pak." Sahut Abang dawet.

"Dari mana dek?" Tanya Bapak kepada Elang.
"Ini Pak dari jalan-jalan, keliling motor." Jawab Elang.
"Kuliah?" Timpal Bapak lagi.
"Enggak Pak." Elang kali ini sambil tersenyum kepada Bapak tersebut.
"Itu apa? coba lihat." Bapak mengambil brosur yang ada di atas tas Elang.

"Hmmm." si Bapak bergumam sambil menghembuskan nafas lalu meneguk dawet yang sudah disajikan.
"Kalau Bapak pasang beginian di rumah jarang ada yang pakai dek." Lanjut Bapak.
"Sudah dapat berapa pelanggan dek hari ini? Tanya Bapak.
"Belum ada Pak. Lagian cuma iseng-iseng aja pak. Ngisi waktu luang." Jawab Elang.
"Lo kerjaan kok iseng-iseng. Pantas gak ada pelanggan. Kalau kerja jangan setengah-setengah dek. Harus total." Sahut Bapak kemudian berdiri mengahmpiri Abang penjaja dawet alu pergi ke arah timur dengan sepeda motor GL Pro.

Elang tetap termangu ke arah bengkel lokomotif di depannya. Kali ini para pegawai sudah mulai kembali ke bangunan bengkel lokomotif untuk kembali bekerja.
Share:

Berlangganan