Satu hal di dunia ini yang tidak membutuhkan modal, "bahagia". Sedangkan bahagia adalah ketika kamu hidup dengan pikiran tanpa belenggu. Maka hancurkanlah setiap belenggu yang mengekangmu

Monday, October 8, 2018

Cerita Sederhana di Bawah Temaram, Sebuah Jurnal #3

Malam itu tenda kami benar-benar terkena ombak pasang. Ombak pasang tersebut mengenai tepat seluruh kawasan tenda kami. Di sebelah timur pantai hanya tenda kami yang terkena ombak. Tenda sebelah kami sudah mundur ke belakang dari tadi. Kami sendirian yang belum pindah. Kami percaya bahwa ombak tidak akan sampai ke tenda kami sebagaimana analisis Pak Tomo dan si Penjaga pantai. Ombak pasang tersebut mengarah ke arah timur pantai yakni tempat tenda kami berdiri. Setelah itu mengarah ke barat. Di sebelah barat ada satu tenda yang juga terkena ombak pasang.

Ketika ombak pasang menerjang tenda yang kami pikirkan adalah mengangkat tenda ke belakang. Pasalnya Carrier, ransel, pakaian dan perlengkapan kami berada di dalam tenda tersebut. Hal tersebut memang sudah kami rencanakan untuk mengumpulkan barang menjadi satu di dalam tenda. Dengan tujuan memudahkan untuk evakuasi. Namun ketika ombak menerjang kami baru saja masak di luar tepatnya di depan tenda. Barang-barang seperti kompor, nasting, matras, mie instan, kopi, bahkan Smartphone masih berada di luar.



Benar saja meskipun kami berhasil mengangkat tenda ke belakang dan hanya basah bagian teras tetapi barang kami yang berada di luar porak poranda. Setelah berhasil mengangkat tenda ke belakang kami baru teringat dengan barang di luar tenda dan berusaha mengambilnya. Namun sepertinya hal tersebut sudah terlambat matras hingga kompor tersapu ke barat terbawa ombak. Aku sempat kaget karena smartphoneku tadi kutaruh di sampingku jelas saja ikut terbawa ombak pikirku. Namun sungguh ajaib ternyata sidiq datang dengan smartphoneku di genggamannya. Ah sungguh lega smartphoneku terselamatkan. Justru smartphone Sidiq yang basah meskipun ditaruh di dalam kotak kompor namun tetap saja terkena air laut.

Dengan sigap segera Sidiq mematikan smartphone dan melepas baterai dan menaruhnya di tempat yang kering. Kembali fokus dengan barang-barang yang tersapu ombak. Kami memungutnya satu per satu. Riuh sorak pun membahana di tenda-tenda belakang kami. Bak menonton sebuah pertandingan bola dan melihat jagoannya akan mencetak goal. Dengan bantuan si penjaga pantai, Pak Tomo, dan beberapa peserta camping lain, barang-barang kami yang tersapu di temukan. Berkali-kali Pak Tomo terhuyun-huyun dari arah barat membopong matras kami dan beberapa bungkus mie instan. Sungguh luar biasa Pak Tomo ini. Tanpa beliau mungkin sudah harus mengganti matras. Maklum matras sewaan ckckck. 

Setelah barang-barang yang terseret ombak terkumpul kecuali serenteng kopi kami yang tetap tak ketemu, kami mulai beres-beres dan membersihkannya. Seperti mencuci nasting dan matras yang kotor. Beruntung disebelah kami terdapat bekas warung yang rusak terkena pasang bulan lalu. Masih menyisakan tiang-tiang yang dapat digunakan sebagai jemuran. Selanjutnya kami menata kembali barang-barang yang berada di dalam tenda. Kami masih trauma dengan ombak pasang tadi dan berfikir bisa datang pasang yang lebih besar. Dengan mengelompokan barang di tengah tenda dengan mudah kami dapat mengangkat kembali tenda menjauh.

Malam itu mengingat info dari Pak Tomo dan si penjaga pantai puncak dari pasang adalah jam 23.00 sementara saat itu baru jam 21.00 maka kami memutuskan untuk berjaga-jaga dan memantau gelombang. Karena rencana kami setelah pasang selesai kami akan kembali memindahkan tenda ketempat semula yakni maju di bibir pantai. Kami pun membagi tim menjadi dua yakni tim untuk memantau ombak dan tim untuk memasak. Aku dan Hafidh bertugas memasak sementara Ari dan Sidiq memantau ombak.

Sepanjang malam itu kami berbaring dengan matras dan pasir hingga menjelang pagi. Kami baru memindahkan tenda kami ke tempat semula menjelang pagi dengan tujuan untuk pencitraan kepada peserta camping lainnya kalau kami tak gentar dengan ombak pasang hehe. To be continued.



Share:

Friday, October 5, 2018

Cerita Sederhana di Bawah Temaram, Sebuah Jurnal #2

   Semakin malam tenda-tenda yang berdiri di belakang kami semakin banyak. Rombongan-rombongan mulai berdatangan, maklum kami termasuk golongan awal yang datang ke pantai. Alhasil suara kegaduhan suka ria muncul diantara kerumunan tenda-tenda tersebut. Ada yang sedang berusaha mendirikan tenda, ada yang menyalakan api unggun, ada yang bernyanyi bersama. Fokus kami tak lagi ke bintang-bintang yang ada di angkasa melainkan menyaksikan hiruk pikuk orang-orang di belakang tenda kami.



Tak lama setelah itu kami dikagetkan dengan deburan ombak yang terasa semakin besar entah itu hanya pikiran kami atau bagaimana yang jelas itu tak membuat kami tenang. Deburan ombak tersebut benar-benar menyita perhatian kami mengingat tenda kami berdiri di garis depan pantai. Beberapa menit sekali sorot lampu senter kami arahkan ke bibir pantai untuk melihat air laut. Rupanya tenda-tenda di belakang kami juga was-was dengan pasang air laut. Berkali-kali sorot lampu senter menyoroti bibir pantai dari tenda-tenda.

Semakin malam bibir pantai semakin tidak terlihat meskipun dengan sorot lampu senter. Alhasil kami berusaha membuat penanda sekiranya bisa memantulkan cahaya senter. Hafidh berlari ke belakang tenda untuk mencari ranting sementara Sidiq mencari benda yang bisa memantulkan cahaya. Didapatlah plastik mengkilat yang bisa memantulkan cahaya senter. Ari menuju ke bibir pantai dan menancapkan ranting sekitar 2 meter dari bibir pantai dengan unjungnya diikat plastik. Hal tersebut memudahkan kita untuk mengamati kondisi bibir pantai apabila ranting tersebut masih ada berarti masih aman.

Sesekali si penjaga pantai datang kembali untuk ikut mengawasi bibir pantai untuk mengantisipasi apabila terjadi pasang. Menurutnya lokasi tenda kami masih aman dan tidak akan sampai apabila terjadi pasang. Hal tersebut dengan melihat riwayat pasang malam sebelumnya yang masih jauh dari tempat kami mendirikan tenda.

Demikian juga bapak penjaga toilet yang paling dekat dengan tenda kami sebut saja Bapak Tomo. Bapk Tomo ikut menenangkan kami “Tenang saja gak akan kena ombak, masih jauh kok” begitu analisis Bapak Tomo yang kemudian beralih untuk ngobrol dengan topik lain. Menurut Bapak Tomo pantai Greweng ini kalau musim penghujan berupa sungai dari hulu sehingga pantainya terbelah. Sehingga pada musim penghujan lokasi untuk ngecamp hanya berada di sebelah timur. Beruntung kami datang pada musim kemarau jadi sangat terasa luas hamparan pasir putih nan halusnya.

Semakin larut malam kami mulai terasa lapar. Nasi rames yang kami makan tadi sore rupanya belum membuat kami kenyang. Maklum nasi beli di pasar dekat pantai sehingga beda dengan porsi kami di rumah hehehe. Kami berinisiasi untuk membuat mie goreng. Kompor kembali kami nyalakan, memulai dengan merebus air. Sembari menunggu air mendidih aku mempersiapkan 4 mie goreng namun belum aku buka kemasannya. Sementara ari tetap mengamati bibir pantai dengan lampu senternya. Semenjak penjelasan dari Pak Tomo dan si penjaga pantai aku mulai tenang dan tak agi risau dengan kondisi bibir pantai. Kali ini aku duduk menghadap kompor dan membelakangi pantai. Sementara Hafidh dan Sidiq di sampingku.

Ketika aku sedang mengamati air di atas kompor untuk menanti mendidih tiba-tiba Ari memberi tanda bahwa air semakin mendekat. Ranting penanda di bibir pantai yang kami pasang sudah hanyut terkena ombak. Ari semakin yakin bahwa tenda kita akan terkena ombak pasang apabila tidak segera pindah. Namun kami tetap percaya analisis Pak Tomo dan si penjaga penjaga pantai. Merekakan sudah setiap hari di pantai jadi lebih tahu kondisi pantai begitu Hafidh menimpali. Sementari aku tidak begitu tertarik lagi dengan kondisi bibir pantai dan tetap mengamati air ketika mendidih di atas kompor.

Tak lama kemudian Ari kembali berteriak. Kali ini lebih keras dan sambil lari ke arah tenda. Aku toleh kebelakan dan ombak telah sampai kurang dari semeter di belakang tempatku duduk. Seketika bruuuusssssssss. Aku lari ke arah tenda dan yang ku pikirkan hanya mengangkat tenda dan membawanya mundur ke belakang. To be Continued
Share:

Wednesday, October 3, 2018

Cerita Sederhana di Bawah Temaram, Sebuah jurnal #1

Akhir-akhir ini aku suka berpetualang di alam. Tenang, sunyi, segarnya alam menjadi daya tarik bagiku. Kali ini aku akan membagikan ceritaku saat nge-camp di pantai. Kegiatan nge-camp sebelumnya aku lakukan di gunung. Hal ini pertama kali aku lakukan. Waktu itu ada ajakan dari salah satu kawan Ari namanya untuk nge-camp di pantai. Pantai antonim dari gunung. Menarik bukan. Aku iyakan saja ajakan itu.

Setelah beberapa kali ditunda akhirnya kami mendapat tanggal yang pas untuk melakukan kegiatan. Maklum kali ini tak lagi seperti dulu yang selalu punya waktu sama. Saat ini karena kesibukan masing-masing menentukan waktu menjadi hal yang sulit. Tak hanya Ari aku juga bersama dua kawanku Hafidh dan Sidiq. Sabtu, 28 September 2018 waktu yang pas untuk kami nge-camp.

Terdapat beberapa pantai favorit untuk nge-camp di Jogja. Tentu saja pantai-pantai di Gunung Kidul. Selain pasir putih dan bebatuan karang. Pantai-pantai yang belum banyak terjamah manusia menjadi daya tarik. Tentunya suasana alami alam masih kental terasa. Hal itu terdapat hampir disemua pantai di Gunung Kidul.
Semakin sepi dan belum terjamah banyak manusia tentunya semakin menarik pantai tersebut. Setelah kami cari referensi mengenai pantai-pantai yang dirasa pas, Akhirnya Pantai Greweng menjadi pilihan kami. Pantai yang terletak di desa Jepitu, kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul. Lebih tepatnya berada di antara Pantai Wediombo dan Pantai Jungwok.
Rencananya kami nge-camp hari Jumat, 27 September 2018, tetapi karena salah satu kawan kami Ari ada pekerjaan mendadak terpaksa diundur satu hari. Pada sabtu, 28 September 2018 akhirnya terlaksana. Kami berangkat dari jogja pukul 14.00 wib karena pagi harinya aku harus menghadiri acara wisuda kawan kuliahku.
Perjalanan menuju lokasi sekitar 2 jam lebih 30 menit dari kota Jogja dan melalui jalan utama kota Wonosari. Namun kami lebih memilih melalui jalur selatan yakni melalui Imogiri Bantul, Panggang dan seterusnya mengikuti sepanjang pantai di Gunung Kidul. Perjalanan melalui jalur selatan ternyata lebih lama yakni memerlukan waktu sekitar 3 jam 30 menit. Hal ini disebabkan jalur selatan yang berkelok-kelok. Namun tenang saja jalan yang dilalui cukup bagus namun kekurangannya cuma waktu tempuh yang lebih lama.
Diperjalanan kami sempat mampir ke toko kelontong di pinggir jalan untuk membeli bekal makanan dan minuman. Kami pikir di sana tidak ada warung penjual makanan. Kami sampai di lokasi pantai Greweng sesaat setelah matahari tenggelam. Sudah terasa gelap. Kami pun hanya bisa sampai di pintu masuk Pantai Wediombo yang berjarak kurang lebih ditempuh dengan jalan kaki memerlukan waktu 20 menit. Lumayan jauh memang. Hal ini karena akses menuju ke Pantai Greweng hanya bisa dilalui dengan jalan kaki melewati ladang pertanian. Menarik bukan.
Oya untuk ke Pantai Greweng kami harus membayar Retribusi di TPR Rp 20.000 untuk 4 orang. Selanjutnya kami menitipkan sepeda motor dengan tarif Rp 5.000 per motor. Jalan yang kami lalui menuju ke pantai berupa jalan setapak yang mana di kanan dan kiri merupakan ladang pertanian. Sepanjang jalan yang kami lalui, kami berjumpa dengan beberapa orang. Rupanya mereka baru saja dari pantai dan hendak pulang.


Setelah 20 menit berjalan langkah kaki kami menginjak pasir halus nan putih. Sejauh mata memandang hamparan pasir putih dan halus terlihat. Ditambah suasana mulai gelap menambah suasana yang nyaman. Ketika kami sampai di pantai baru terdapat 2 tenda yang berdiri. Kami pun segera menentukan tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Kami memilih hamparan pasir sebelah kiri dan berada di garis terdepan bibir pantai. Dengan harapan bisa melihat view dan suara deburan ombak pantai dari dekat. Sementara tenda-tenda yang lain berdiri di belakang tenda kami.
Setelah tenda berdiri kami berbagi tugas untuk memasak air dan bergantian cuci muka serta beribadah. Setelah itu segelas kopi menemani kami menyeduh indahnya temaram malam dan suara deburan ombak. Menggelar dua matras untuk berempat. Lampu lentera yang tergantung di depan tenda. Alunan musik “Aku tenang” dari Fourtwenty menambah kehangatan kami dikala menyantap nasi rames yang kami beli di pasar Jepitu. Oh sebuah suasana yang kami lakukan terakhir kali 10 tahun yang lalu dalam sebuah perkemahan Sekolah Menengah Pertama tepatnya tahun 2008. Sungguh suatu anugrah luar biasa kita bisa bermalam dihamparan pasir halus nan putih.
Tiada api unggun api paravin pun jadi. Kami tidak bawa kayu bakar dan alas bakar untuk membuat api unggun. Untung saja Ari bawa paravin dan tungkunya. Langsung saja kami bakar dan ah benar saja meskipun tak sebesar api unggun 10 tahun yang lalu namun ini cukup untuk menciptakan suasana yang kembali sama.
Masih di atas matras yang sama. Kali ini kami berbaring berjajar memandang langit yang sama, memandang bintang yang sama, dan sesekali menemukan gambar rasi bintang yang kami pelajari sewaktu sekolah dasar dahulu. Ada rasi bintang layang-layang, waluku, kalajengking, dll. Ah semakin malam bintang semakin banyak begitupun dengan deburan ombak yang terasa semakin deras. Di bawah timbunan pasir putih nan halus kaki kami merasakan hangatnya malam. Nostalgia masa lalu saat berseragam biru putih menjadi cerita utama.
Hingga akhirnya si penjaga pantai memberi arahan tentang ombak pasang yang akan datang. Fiuh begitu taktis dan tepat si penjaga pantai mengabarkan titik ombak yang akan datang. Luar biasa memang. Tenda kami dinilai aman tidak akan terkena pasang. Ombak pasang akan sampai sekitar 1 meter di depan tenda kami begitu pemaparan si penjaga pantai. Kami pun kembali berbaring memandang rasi bintang dan berselimut hangat pasir meski kami tidak tahu apa yang akan terjadi. To be Continued....

***
Share:

Saturday, September 15, 2018

Nasehat Menjelang Tidur #1

Matahari mulai masuk keperaduanya. Siang berganti malam. Lampu-lampu mulai menyala menerangi Desa Sungapan. Anak-anak menyambut ayah mereka setelah seharian bekerja di Ladang dan Sawah. Mereka berkumpul dengan suka cita dan kehangatan keluarga. Kenyamanan, ketentraman, dan keasrian terasa di Desa Sungapan Sore itu. Begitu juga apa yang dirasakan oleh Zainal, anak seorang petani yang sangat menyanyangi kedua orang tuanya. Zainal dikenal sebagai anak yang cerdas, sholeh dan berbakti kepada orang tuanya, Pak Mahfud dan Bu Martini.

Zainal, Pak Mahfud dan Bu Martini baru saja sampai di rumah setelah seharian berkubang dengan lumpur serta terik matahari. Ya, saat itu sedang musim tanam padi. Musim dimana saat-saat paling sibuk seorang petani bekerja dengan penuh semangat dan cinta, dengan harapan tanaman padi akan tumbuh subur dan sehat.
“Le, kamu mandi dulu saja hari semakin gelap.” Bu Martini menyuruh Zainal agar mandi  dulu, sementara ia mengambilkan minum untuk Pak Mahfud.
“Baik Bu.” Zainal segera ke kamar mandi.

Sementara di samping rumah, Pak Mahfud memberi rumput dan air komboran untuk sapi-sapinya. Pak Mahfud adalah sosok pekerja keras yang pantang menyerah menghidupi seorang istri dan empat orang anak. Yang paling kecil adalah Zainal Musthofa duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar, kakak pertamanya Nur Aini bekerja di sebuah toko, kakak keduanya Nur Laili, juga bekerja di sebuah toko di kota Yogyakarta, sedangkan kakak ketiganya adalah Azahra Nuryanti duduk di bangku kelas dua SMP. Zainal merupakan satu-satunya anak laki-laki Pak Mahfud, semua saudaranya perempuan. Tinggal Zahra dan Zainal yang masih menjadi tanggungan Pak Mahfud dan Bu Martini, sedangkan dua anak yang tertua Aini dan Laili sudah berkeluarga sendiri.

Setelah Zainal selesai mandi gantian Bu Martini setelah itu baru Pak Mahfud. Sementara di dapur Zahra menyiapkan makanan untuk makan bersama. Kumandang Adzan pun berkumandang. Satu per satu masjid mengumandangkan adzan hingga saling bersahutan. Kumandang adzan yang merdu, indah dan menggetarkan setiap jiwa. Burung-burung kembali ke sarangnya. Pohon-pohon terdiam seolah menangis bergetar mendengar kumandang adzan yang memberikan cahaya di Desa Sungapan Sore itu.

Pak Mahfud, Bu Martini, Zainal dan Zahra bergegas menuju ke Masjid. Masjid kurang lebih berjarak 100 meter kearah timur dari rumah Pak Mahfud. Di sepanjang jalan menuju ke Masjid berjumpa dengan tetangga dan warga sungapan yang juga berbondong-bondong menuju ke Rumah Allah. Rasa kekeluargaan dan kerukunan masih sangat terasa diantara warga Sungapan. Desa Sungapan yang Tata, Titi, Tentrem, Agamis kerta, Raharja. Semboyan itulah yang dipegang teguh oleh masyarakat yang menjadikan siapa saja bakal betah dan krasan tinggal di Desa Sungapan.

Tepat di Masjid Al-iman, iqomad dikumandangkan sholat maghrib dimulai, Simbah Kalim yang merupakan tokoh panutan sekaligus kaum menjadi imam dalam sholat berjamaah itu. Seluruh makmum meresapi dengan khusyuk setiap surrah yang dibacakan oleh Imam. Sholat maghrib pun terasa sangat khusyuk dan hikmat. Seluruh jamaah trenyuh dan tergugah hatinya akan kebesaran Allah SWT sebagai Sang Pencipta. Mereka semua merasa lemah dan kecil dihadapan di hadapan Sang Khaliq. Mereka semua mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka. Kesuburan yang diberikan di Desa Sungapan, Air yang tercukupi, dan tanaman padi yang sehat-sehat itu semua adalah karunia Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Tadarus Al-Qur’an bersama seusai sholat menambah ketentraman setiap jiwa diantara jiwa-jiwa yang lalai. Pohon-pohon, burung-burung dan semua makhluk ciptaan Allah SWT seraya bertadarus di dalam gelap dan dinginya desa Sungapan malam itu.
***
Share:

Thursday, September 6, 2018

Kehadiranmu




Kehadiranmu...
Adalah tanda tanya yang selalu menganga
Adalah lorong gelap yang tak beratap
Adalah teka-teki yang selalu memaki
Adalah misteri yang hadir dalam setiap mimpi

Kehadiranmu...
Selalu dinanti
Oleh hati yang sepi
Oleh kasih yang selalu masih
Oleh mimpi yang tak henti menagih

Kehadiranmu...
Aku tak mau menjemputmu
Aku tak mau dijemput olehmu
Aku harap berjumpa di tujuan
Tujuan kita




Share:

Saturday, August 25, 2018

Zebra Cross



Matahari tenggelam, gelap menyelimuti. Tak terasa kuda besiku telah sampai. Segera ku istirahatkan kuda besiku. Sebuah media yang menghantarkanku menyambut hari demi hari. 

Kutaruh tas ranselku di sudut kamarku. kurebahkan tubuhku di matras tempatku istirahat. Sorot lampu remang-remang dari luar kamar menambah kesunyian. Ya kesunyian yang sudah menjadi hari-hariku. Semenjak sayap-sayap hidupku pergi 8 tahun yang lalu kesunyian telah menjadi bagian hidupku. Meskipun aku hidup di bangunan yang kokoh dengan tiang-tiang penyangga yang gagah, semua itu akan terasa sunyi tanpa kepak-kepak sayap kehidupanku.

Kepak sayap yang selama 16 tahun menemaniku dengan penuh canda dan kehangatan. Pergi begitu saja. Kejam dan menyakitkan tetapi harus dikenang. Dikenang menjadi sebuah pengingat agar tak melupakan. Dikenang menjadi sebuah idealisme agar tak rapuh dan menyerah tertindas.

Hal dan pikiran yang sama setiap kali aku sampai di matras kamarku dengan lampu remang-remang dari luar kamarku. Sebuah tempat yang membuat jiwaku meledak, teriak, dan berontak seperti seorang pejuang negara yang menginginkan REVOLUSI untuk kehidupan yang lebih baik. Ah namun apalah arti semua itu bukankah kalimat bijak mengatakan bahwa Revolusi tidak dimulai dari kasur? Pfffttt.... Segala hal dan pikiran itu mengantarkanku terlelap sejenak tanpa mandi dan cuci kaki. Aku sebut ini hanya tidur transit.

***

Bukan main! Bukannya mimpi indah yang menjadi bunga tidurku. Justru lagi-lagi kehidupan nyataku hadir dalam mimpiku. Kali ini aku terjebak dalam persimpangan. Sebuah zebra zross dengan lalu lintas yang begitu padatnya. Bukan main mereka benar-benar ingin saling cepat. Lampu masih menyala merah namun tak henti mereka membunyikan klakson. Nyaliku hampir menciut ditengah zebra cross sambil bergumam "Mereka yang ditindas waktu? atau mereka yang bodoh me-manage waktu?"

Ah bodo amat yang jelas aku harus melangkah menyelesaikan perjalanan di zebra cross ini. Kalau aku tak segera melangkah aku akan tertindas oleh puluhan kendaraan yang sebenarnya ingin terbang tapi tak sanggup terbang.

Kulanjutkan perjalananku melewati trotoar yang katanya khusus pejalan kaki. Bukan begitu yang kurasa trotoar ini banyak lubang bahkan semen-semen banyak yang mengelupas. Tak sampai di situ banyak tiang-tiang baliho papan iklan yang menganggu perjalannanku melewati trotoar ini. Saya tak mau menyalahkan pedagang kaki lima kali ini, mereka kan rakyat kecil. Kali ini saya berbaik hatilah sama mereka. Sesama rakyat harus saling bantu.

Sial benar. Kenapa aku tak bisa memilih kehidupan. Bahkan dalam mimpipun aku tak bisa milih mimpi yang indah-indah. Aku justru terjebak dalam zebra cross dengan puluhan kendaran yang ingin terbang lalu berjalan di trotoar yang amat tak nyaman. Ah namun satu hal yang ku kenang dalam mimpi kali ini aku tidak berhenti dalam zebra cross itu. Andaikan aku berhenti pasti aku tergilas puluhan kendaraan itu. Aku juga sanggup melewati trotoar yang tak nyaman itu dan yang terpenting aku sampai tujuan. Sampai detik ini aku belum menemukan "aku menyerah".

Bersamaan dengan itu aku terbangun tepat pukul 23.00 wib. Ah sial aku sadar aku belum mandi, bahkan kaos kakipun masih menempel di kakiku.
Share:

Sunday, April 29, 2018

Di Persimpangan Jalan

Source: pxhere

Sepi sunyi suasana basement. Hanya tinggal satu motor yang berada di basement. Tinggal aku seorang diri. Meski demikian segala sudut basement nampak terang tak ada satu pun kegelapan. Ya, lampu basement memang tak pernah dimatikan sepanjang malam. 

Sore itu merupakan hari yang sangat menyebalkan. Gagal perjumpaanku dengan dosen. Sebuah kegagalan yang bukan kurencanakan dan sebuah kegagalan yang ku tak tahu alasannya. Jelas skripsiku menjadi molor. Jelas sungguh tak produktif. Waktu yang terbuang sia-sia tanpa hasil yang jelas. 

Segera kunyalakan motorku. Ku gas kencang. Keluar basement menyisakan debu yang berhamburan sepanjang bekas roda motor. Sebuah basement yang baru selesai dibangun memang menyisakan debu semen yang entah memang tidak tahu cara menghilangkannya atau entahlah. Yang jelas debu tersebut sangat mengganggu setiap harinya.

Rasa kesal dan gundah perlahan hilang berganti damai dan tenang seiring alunan kumandang adzan magrib. Demikian juga dengan para pengendara motor perlahan melambat. Seolah-olah kedamaian menghampirinya setelah seharian berburu rupiah disetiap penjuru bumi. Terlihat beberapa pengendara merapat di rumah Sang Pencipta yang berada di pinggir jalan. Tempat membasuh kotoran dan segala najis mulai penuh antrian. Shof-shof kosong mulai terisi penuh. Sejenak manusia mengingat Sang Sencipta sekaligus berkeluh kesah.

Segera kunyalakan motor dan kupacu. Kali ini dengan tarikan gas yang syahdu penuh perasaan romantis. Gemerlap lampu kota yang mulai menyala bagaikan bunga-bunga surga penambah bumbu-bumbu romantisme. Ya semua itu karena romantisme yang diberikan Sang Pencipta kepada semua hambanya yang memohon bahkan tanpa memohon kepadanya. 

Tarikan gas motorku melambat lalu berhenti di sebuah persimpangan. Lampu merah menyala dengan angka hitungannya. Ku tatap angka hitungan lampu merah itu. Sebuah hitungan dari angka besar menjadi angka semakin kecil. Menyadarkanku bahwa hidup ini sangat singkat. Waktu berjalan sangat cepat bahkan sudah tak layak disebut berjalan melainkan berlari.

Motor dan mobil di seberang simpangan lalu-lalang silih berganti sesuai dengan hitungan waktunya masing-masing. Semua motor dan mobil mempunyai waktu dan gilirannya masing-masing untuk mendapat giliran melaju. Mereka tidak melihat yang lain atau bergantung dengan yang lain. Mereka akan berjalan pada gilirannya ketika angka hitungan lampu merah sudah menunjukan lampu hijau. Setiap pengendara dari berbagai arah persimpangan akan mendapatkan waktu dan gilirannya masing-masing. Motor dan mobil itu tidak saling beradu cepat layaknya mobil dan motor balap di sirkuit.

Sebuah pelajaran berharga bagiku bahwa sesungguhnya hidup ini bukan beradu kecepatan. Siapa yang paling cepat atau sebagainya. Karena setiap orang itu punya waktunya masing-masing. Orang yang lambat pada satu hal bisa jadi dia cepat pada hal lain. Begitupun orang yang cepat pada satu hal bisa jadi lambat pada hal yang lain. Hal ini bukan masalah karena sesungguhnya hidup bukan masalah cepat atau lambat. Tetapi hidup adalah berjalan. Setiap perjalanan punya tujuan. Setiap perjalanan melalui sebuah jalan atau media yang mampu menghantarkan pada tujuan. Cepat atau lambat bukanlah masalah, yang menjadi masalah adalah ketika seorang pejalan tidak pernah sampai pada tujuannya.

Pada hakekatnya manusia sebagai makhluk hidup harus mampu mewarnai kehidupan. Entah kehidupannya atau kehidupan orang lain. Mewarnai adalah mengubah sesuatu yang tadinya hampa atau biasa saja menjadi sesuatu yang indah dan menakjubkan. Sehingga bukan disebut mewarnai kehidupan ketika itu merugikan manusia lain dan semesta.

Berkarya adalah satu-satunya tindakan untuk mewarnai kehidupan. Dengan berkarya akan menunjukan bahwa ada hidup. Sebagai manusia yang hidup harus berkarya. Hal itu sebagai rasa syukur kepada Sang Pencipta atas segala nikmat kehidupan yang tak dapat dihitung. Berkarya tidak diukur dengan harta. Berkarya tidak diukur dengan uang. Berkarya tidak diukur dengan nasi bungkus. Berkarya tidak diukur dengan hal-hal kenikmatan. Karena sesungguhnya kenikmatan diberikan Sang Pencipta tanpa hamba meminta atau bahkan kepada hamba yang tidak mengenal-Nya. Kenikmatan tersebut diberikan Sang Pencipta untuk bekal kehidupan. Dan kenikmatan tersebut merupakan bagian dari kehidupan.

Namun manusia sering salah memahami dan salah prasangka terhadap kehidupan. Kalau tidak salah bukan manusia namanya. Kalau tidak salah bukan hamba namanya. Sering kali manusia mengartikan berkarya adalah aktivitas untuk memperoleh kenikmatan. Sehingga obsesi setiap manusia dalam berkarya adalah untuk mendapatkan hal-hal penunjang kenikmatan seperti uang, harta, dan nasi bungkus. Mereka lupa bahwa tanpa berkaryapun Sang Pencipta sudah menyediakan itu. Karena salah prasangka terhadap hakekat berkarya, maka manusia dalam mewarnai kehidupan yakni berkarya tidak didasari dengan cinta dan rasa syukur. Melainkan didasari dengan obsesi-obsesi akan penunjang kenikmatan seperti nasi bungkus.

Salah sangka dan salah prasangka tersebut menjadikan manusia tanpa arah dan cenderung rapuh. Mereka tidak tahu untuk apa mereka menuntut ilmu (Sekolah, Kuliah, dsb). Sehingga yang mereka dapat hanyalah selembar title. Tetap mereka menjadi manusia yang bingung. Tetap mereka menjadi manusia yang tidak merdeka akan dirinya sendiri. Mereka berlari kesana kemari bukan dengan cinta melainkan dengan gelisah dan kerakusan.

Suara klakson dibelakangku mengagetkanku. Lampu merah berubah menjadi hijau. Semua pengendara mulai melaju tanpa ragu. Mereka mantap melaju pada jalan sesuai pilihannya masing-masing. Saat itu manusia-manusia benar-benar menjadi manusia yang merdeka dan penuh cinta.
Share:

Berlangganan