Hidup bukan sekedar hidup

Thursday, March 21, 2019

Tahta

Tahta
Kursi bukan sekedar kursi
Tempat bergantung mimpi
Hajat jutaan rakyat mengisi
Bersiap menagih janji

Tahta
Tak sedikit mengaku pewaris
Segala cara mengadu nasib
Benar salah bukan lagi semesta
Melainkan pemilik petak

Tahta
Sebaik-baiknya
Sehormat-hormatnya
Tidak menjadikan
Kemanusiaan sebagai biaya

Filsufpejalan
#HariPuisiSedunia
Share:

Thursday, March 7, 2019

Aksi Massa : Tan Malaka, Resensi buku

Resensi buku
Judul buku: Aksi Massa
Pengarang: Tan Malaka
Penerbit: Narasi
Cetakan pertama 2018
ISBN 979-168-549-5
Tebal buku: 148 hlm, 14,5 x 21 cm
Oleh Sapta Hamdallah Putra


Pemikiran Tan yakni upaya perebutan kekuasaan dengan radikal (putch) bukanlah solusi terbaik. Menurutnya Putch adalah satu aksi segerombolan kecil yang bergerak diam-diam dan tak berhubungan dengan rakyat banyak. Gerombolan itu bisanya hanya membuat rancangan menurut kemauan dan kecakapan sendiri tanpa memedulikan perasaan dan kesanggupan massa. Tukang-tukang putch lupa bahwa revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil berbagai macam keadaan. 

Bila tukang-tukang putch pada waktu yang telah ditentukan oleh mereka sendiri, keluar tiba-tiba, massa tidak akan memberikan pertolongan kepada mereka. Bukan karena masa bodoh atau tidak memperhatikan, melainkan karena massa hanya berjuang untuk kebutuhan yang terdekat dan sesuai dengan kepentingan ekonomi.

Agar sebuah gerakan dapat mencapai tujuannya, Tan menawarkan Aksi Massa sebagai solusinya. Karena Aksi Massa tidak mengenal fantasi kosong seorang tukang putch atau seorang anarkis atau tindakan berani dari seorang pahlawan. Aksi massa berasal dari orang banyak untuk memenuhi kehendak ekonomi dan politik mereka.

Dengan alasan inilah Tan Malaka menolak rencana pemberontakan Partai Komunikasi Indonesia (PKI) 18 Juni 1926 yang dinilainya terlalu sembrono dan sama sekali tidak mempertimbangkan dasar-dasar aksi massa. Terbukti kemudian pemberontakan itu gagal. Banyak pemimpin PKI yang ditangkap dan dibunuh. Buku ini ditulis oleh Tan Malaka pada sekitar tahun 1926, saat ia meloloskan diri dari Indonesia dan masuk ke Singapura dengan menggunakan nama Hasan Gozali. 

Buku ini memaparkan mengenai revolusi yang menurut Tan, revolusi itu bukanlah ide yang luar biasa dan istimewa serta bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa. Sebuah revolusi disebabkan oleh pergaulan hidup suatu akibat tertentu dari tindakan-tindakan masyarakat. Atau dalam kata-kata yang dinamis ia adalah akibat tertentu dan tak terhindarkan yang timbul dari pertentangan kelas yang kian hari kian tajam. Tujuan sebuah revolusi ialah menentukan kelas mana yang akan memegang kekuasaan negeri, politik, dan ekonomi, dan revolusi itu dijalankan dengan "kekerasan".

Tan juga memaparkan riwayat Indonesia. Menurutnya riwayat Indonesia tak mudah dibaca apalagi dituliskan. Riwayat negeri kita penuh dengan kesaktian, dongeng-dongeng, karangan-karangan dan pertentangan. Tak ada seorangpun ahli riwayat dari kerajaan Majapahit atau Mataram yang mempunyai persamaan dengan ahli riwayat bangsa Roma kira-kira di zaman 1400 tahun yang silam, seperti Tacitus dan Caesar. Kita terpaksa mengakui bahwa kita tak pernah mengenal ahli riwayat yang jujur.

Selain itu Tan juga memaparkan bagaimana Imperialisme, Kapitalisme dan Keadaan Sosial di Indonesia. Menurutnya hubungan antara bumiputera dengan pemerintah kolonial kala itu bumiputera sebagai buruh sementara kolonial sebagai kapital. Hal ini terlihat tidak ada satupun pemodal dari kalangan bumiputera. Hal ini menyebabkan pertentangan kelas yang tajam yang mana akan menyebabkan perawanan dari bangsa Indonesia. Sementara keadaan sosial saat itu jelas bangsa Indonesia sebagai buruh diperas demi keuntungan kolonial. Penderitaan rakyat dirasakan semakin hari semakin kejam.

Tan juga memaparkan alat-alat yang digunakan untuk revolusi serta gerakan kemerdekaan Indonesia kala itu. Menurutnya Partai Borjuis di Indonesia seperti Budi Utomo, PNI, dan SI mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan karena kapital besar bumi putera tidak ada sehingga program nasional dan organisasi mereka sebagai partai borjuis tak tahan hidup.

Tan juga memaparkan konsep Federasi Republik Indonesia. Menurutnya kita tidak boleh aksi kita hanya sebatas pada kemerdekaan bangsa Indonesia yang terhindar oleh imperialisme Belanda. Pembatasan seperti itu akan segera menyempitkan kita dalam arti ekonomi, strategi dan politik.

Kelebihan buku ini yakni buku ini dapat memberikan latar belakang permasalahan yang dialami bangsa Indonesia dan sekaligus memberikan konsep akan sebuah negara. Dengan membaca buku ini kita seolah berkonsultasi langsung dengan seorang konseptor yang akan membuat kita berdecak kagum.


Share:

Berlangganan